Rabu, 03 November 2010

Massa, Kerusuhan Dan Konflik Sosial : Suatu Telaah Psikologi Sosial




Andik Matulessy

Diberikan dalam rangka Acara Pelatihan Kader Bangsa Wilayah Indonesia Timur,
Batu, Malang, 6 Agustus 2005

Saya mimpi tentang sebuah dunia, Dimana ulama-buruh dan pemuda, Bangkit dan berkata-Stop semua kemunafikan, Stop semua pembunuhan atas nama apapun

…….Tak ada lagi rasa benci pada siapapun, Agama apapun, ras apapun, dan bangsa apapun, Dan melupakan perang dan kebencian, Dan Hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.
Tuhan- Saya mimpi tentang dunia tadi, Yang tak pernah akan datang (Soe Hok Gie)

Fenomena Konflik yang Berujung Kerusuhan

Akhir-akhir ini semakin banyak konflik atau kerusuhan terjadi di Indonesia. Hal tersebut tentunya akan menjadi permasalahan yang mengganggu kelancaran pembangunan yang membutuhkan persatuan dan kesatuan untuk mencapai suatu stabilitas nasional yang mantap. Permasalahan yang bersumber dari sentimen SARA menjadi pertanyaan bagi semua kalangan, karena dalam sejarah selama ini semua unsur etnis dapat hidup berdampingan secara damai.

Pada perkembangannya persoalan SARA menjadi dasar terjadinya konflik yang serius dan berkepanjangan. Ada beberapa kasus besar dalam periode 10 tahun ini, misalnya kasus pengrusakan gereja di Situbondo, kerusuhan di Rengasdengklok yang menyebabkan kerusakan vihara dan gereja, kerusuhan di Ketapang-Jakarta, pembakaran gereja di Kupang, pengrusakan tempat ibadah agama di Pasuruan, kerusuhan politis yang diarahkan pada kerusuhan antar umat beragama yang terjadi di Ambon & Maluku Utara, serta kerusuhan Poso yang baru-baru saja menyeruak dengan adanya penembakan terhadap seorang pemimpin agama di tempat ibadahnya.

Fenomena tersebut menunjukkan suburnya bibit-bibit permusuhan antar kelompok. Sementara itu persoalan konflik antar kelompok ini sulit untuk diselesaikan atau dihentikan karena begitu lamanya tidak mendapatkan solusi sehingga menimbulkan dendam berkepanjangan bagi pengikutnya. Hal ini nampak dari kerusuhan yang terjadi di Ambon, Maluku Utara dan Poso, yang berlarut-larut dan diturunkan dari generasi satu ke generasi yang lain, sehingga tinggal menunggu bom waktu pemicu kerusuhan.

Padahal sebenarnya Ralph K White (dalam Ancok, 2004) menyatakan nobody wanted war, tidak seorangpun yang menyukai peperangan (konflik). Hal tersebut berarti manusia sebenarnya juga menginginkan keterdekatan dan kerjasama dengan orang lain, berinteraksi secara positif dan menjalin hubungan yang lebih dalam antara satu dengan yang lain. Namun demikian realitasnya banyak keinginan untuk berkonflik dengan orang lain. Selanjutnya Ralph K White menekankan bahwa ada 6 hal yang bisa menyebabkan terjadi konflik, antara lain diabolical enemy image (pandangan bahwa musuh jahat seperti setan), vipile self image (pandangan bahwa dirinya jantan), moral self image (pandangan dirinya lebih bermoral), selective inatention (tidak memperhatikan sesuatu yang bertentangan dengan keyakinan), absence of emphaty (tidak adanya empati), military over confidence (keyakinan yang berlebihan akan kekuatannya). Pandangan yang dikemukakan oleh White inilah yang dianggap menjadi titik tolak munculnya konflik. Oleh karena itu semua pihak perlu mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas.

Sementara itu ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya permasalahan/ pertentangan atau konflik yang berujung pada kerusuhan, antara lain:

1. Adanya prasangka sosial
Prasangka merupakan fenomena yang terjadi antar kelompok yang cenderung berkonotasi negatif (Kuppuswamy, 1973). Prasangka bisa muncul karena adanya konflik atau kompetisi antar kelompok. Prasangka tersebut terkait erat dengan stereotipe negatif pada kelompok lain atau stigma yang akan melekat dan diturunkan terus menerus dalam kehidupan selanjutnya, akhirnya prasangka tersebut terlihat sebagai dosa turun menurun yang akan selalu ditularkan dari satu generasi ke generasi yang lain. Prasangka menjadi mengkristal karena tidak pernah ada penyelesaian yang tuntas. Pada akhirnya prasangka yang tak kunjung selesai akan menciptakan keinginan untuk melakukan diskriminasi dalam berbagai bidang kehidupan. Akan muncul konsep in-group dan out-group, yang menganggap kelompok dan orang-orang yang se ide dan se ideology sebagai kelompok yang benar, dan sebaliknya orang lain yang tidak se ide sebagai ancaman bagi dirinya. Sebagaimana yang terungkap dalam investigasi dari Gatra (Agustus, 2001) tentang banyak bermunculan panglima cilik dari komunitas Islam (putih) maupun Kristen (merah) di dalam kerusuhan Ambon, akibat dari konflik yang terus menerus dan semakin meneguhkan anggapan atau persepsi yang negatif di antara mereka.

2. Fanatisme yang berlebihan dan keliru
Pertentangan antar kelompok bisa muncul bila terjadi adanya pandangan yang mengagung-agungkan kelompoknya, namun menganggap rendah kelompok lain. Akhirnya segala hal yang menyangkut kelompoklain, dianggap sebagai sesuatu yang negatif atau bahkan lebih jauh lagi dianggap sebagai musuh yang tidak harus dihormati. Akhirnya pandangan negatif tersebut akan menjadi bibit permusuhan antar kelompok. Sebagaimana diungkapkan oleh Jamuin (1999) diistilahkan sebagai klaim kebenaran yang didasarkan atas keyakinan membabi-buta terhadap hasil interpretasi atas teks ajaran agama. Hal tersebut karena klaim kebenaran akan mengarah pada munculnya konflik antar pemeluk agama yang bisa meluas pada konflik pada wilayah kehidupan yang lain.

3. Kurangnya komunikasi
Suatu pertentangan atau permusuhan kadangkala disebabkan oleh ketidaklancaran dalam mengko-munikasikan pesan. Pesan ditangkap oleh orang lain sebagai sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya diinginkan oleh pemberi pesan. Akhirnya akan terjadi kesalahan persepsi akan maksud pesan tersebut, yang berlanjut dengan ketegangan di antara pemberi dan penerima pesan. Begitu pula dalam kehidupan bersama, suatu ketegangan akan terjadi bila suatu hal yang dikomunikasikan oleh kelompok tertentu dipersepsikan keliru oleh kelompok yang lain. Hal tersebut karena kelompok-kelompok yang jarang atau tidak pernah berkomunikasi akan menggunakan info yang sedikit tersebut untuk mengambil keputusan akan kemungkinan perilaku orang lain. Oleh karena itu perlu adanya komunikasi antara kelompok agar tercapai kesamaan persepsi atau sensitivitas akan maksud dan tujuan pesan yang dikomunikasikan.

4. Pencampur adukan kepentingan agama dengan kepentingan sosial, politik, ekonomi
Kepentingan agama memang tidak dapat dilepaskan dari faktor-faktor lain yang melingkupinya. Merunut sejarah masa lalu, agama tidak dapat dipisahkan dari kepentingan-kepentingan lain. Akhirnya kadangkala umat beragama terpecah menjadi berbagai kepentingan yang mempunyai misi dan visi berbeda. Akhirnya apabila muncul ketegangan di antara berbagai kepentingan tidak dapat melepaskan diri dari atribut kepentingan politik atau ekonomi yang disandangnya. Apalagi memiliki kekuasaan politik berarti mempunyai kekuasaan yang lebih dibanding yang lain. Hal inilah yang seringkali menimbulkan pertikaian dalam kehidupan beragama.

5. Terakumulasinya permasalahan sosial ekonomi, seperti kemiskinan, meningkatnya pengangguran dan tidak stabilnya harga kebutuhan pokok, yang tidak terselesaikan dapat pula menjadi pemicu dasar kerusuhan, apalagi bila dikaitkan dengan persoalan SARA. Hal tsb bisa menjadi precipitating factor / event yang ampuh dalam memunculkan kerusuhan. Apalagi ada provokator yang mampu me"manage" isu sehingga mudah membakar massa yang sudah frustasi dengan seabreg ketidakpuasan.

Teori Psikologi Massa

Studi tentang massa atau perilaku kolektif banyak bersangkut paut dengan disiplin sosiologi politik dan psikologi sosial, baik dari ulasan makro maupun mikro (Cook et.al, 1995). Kaitan erat fenomena perilaku kolektif dengan psikologi sosial nampak pertama kali dari publikasi Charles Makay yang berjudul Extraordinary Popular Delusions & The Madness of Crowds tahun 1841; kemudian karya Gustav Le Bon yang berjudul The Crowd, publikasi le Bon ini membawa pengaruh besar meningkatkan perkembangan penelitian tentang perilaku kolektif, seperti Robert Park seorang Amerika yang studi di Jerman yang menulis disertasi tentang perilaku individu dalam kerumunan tahun 1904; selanjutnya Park dan Ernest Burgess mengulas contagion theory dalam buku Introduction to the Science of Sociology tahun 1921; Ralph Turner dan dan Lewis Killian yang memperkenalkan teori Emergent Norm Perspective dalam bukunya Collective Behavior tahun 1957; Neil Smelser dengan teori The Value-Added dalam buku Theory of Collective Behavior tahun 1962; Clarck McPhail dengan teori SBI (symbolic interactionist/ behaviorist) atau Sociocybernetic yang menekankan bahwa perilaku kolektif adalah bentuk dari perilaku kelompok; Floyd Allport dengan teori Konvergen mengulas perilaku kolektif dalam buku Social Psychology tahun 1924; Neil Miller dan John Dollard dalam buku Social Learning and Imitation tahun 1941; pendekatan individual terhadap perilaku kolektif dimunculkan tahun 1988 oleh Michael Hogg dan Dominic Abrams dalam bukunya Social Identification : A Social Psychology of Intergroup Relations and Group Processes; William Kornhauser dengan teori Mass Society dalam buku The Politics of Mass Society tahun 1959 menyatakan bahwa gerakan sosial (social movement) sifatnya personal daripada politis, karena terkait dengan keinginan terbebas dari masalah perasaan terkekang/ terisolasi; Stoufer dengan teori deprivasi relatif tahun 1949 yang kemudian dikembangkan oleh Denton Morrison tahun 1971 dalam buku Some Notes toward Theory on Relative Deprivation, Social Movements and Social Change; Meyer Zald dan Roberta Ash dalam bukunya Social Movement Organizations memunculkan teori Resource Mobilization; serta Douglas Mc Adam dengan teori Political Process dalam buku terbitan tahun 1982 dengan judul Political Process and the Development of Black Insurgency 1930-1970.

Di samping itu, menurut Cook et.al. (1995) banyak publikasi dari psikolog yang mengulas perilaku kolektif dan gerakan sosial dari sudut psikologi sosial, antara lain: Freud dengan bukunya Group Psychology & the Analysis of the Ego, yang terbit tahun 1921;Dollartd et.al. dengan bukunya Frustration and Aggression yang terbit tahun 1939; Adorno et.al. dengan buku The Authoritarian Personality yang terbit tahun 1950.

Lebih jauh lagi DiRenzo (1990) dalam bukunya Human Social Behavior mengungkapkan berbagai jenis dari perilaku kolektif, antara lain : crowds, panic behavior, mass hysteria, behavior in disasters, rumor, publics, public opinion, mass behavior, dan social movement. Sedangkan Locher (2002) dalam bukunya Collective Behavior membedakan perilaku kolektif sebagai berikut : mass suicides, mob violence, riots, crazes, panics, fads, rumors, physical hysterias, millenarian groups, sightings, miracles dan social movements. Menurut John Lofland (2003) perilaku kolektif mencakup 4 jenis yang berbeda, yakni kerumunan (crowd), massa (mass), publik, dan gerakan sosial (social movement).

Gerakan sosial dianggap memiliki keistimewaan dibanding perilaku kolektif yang lain, utamanya tentang pengorganisasian kelompok yang tidak kelihatan pada jenis perilaku kolektif yang lain. Pada dasarnya gerakan sosial mencakup beberapa konsep, yakni ; orientasi tujuan pada perubahan(change-oriented goals), ada tingkatan tertentu dalam suatu organisasi (some degree of organization), tingkatan kontinuitas aktivitas yang sifatnya temporal (some degree of temporal continuity); serta aksi kolektif di luar lembaga (aksi ke jalan) dan di dalam lembaga (lobi politik) (some extrainstitutional and institutional) (Cook et.al., 1995). Dari berbagai konsep di atas nampak sekali bahwa gerakan sosial mencakup pula adanya suatu organisasi tertentu yang lebih kompleks dan bertahan lama dibanding perilaku kolektif lain misalnya crowd.

Cara-cara Mengatasi Konflik

Sherif (Sarwono, 1998) mengungkapkan bahwa pemecahan konflik bisa dilakukan dengan beberapa cara di antaranya adanya pemunculan tujuan bersama, artinya tujuan individu individu bisa disubstitusikan pada tujuan bersama yang lebih besar untuk kepentingan bersama. Hal tersebut berarti kemampuan semua warga negara dari berbagai lini untuk saling menghargai pandangan, perasaan dan respon orang lain akan menumbuhkan kebersamaan. Kuncinya adalah pemerintah harus mengedepankan kepentingan bersama dengan memperhitungkan dampak yang mungkin terjadi dalam kehidupan bangsa dan negara. Tujuan bersama atau Super ordinate goal dapat mengurangi konflik antar kelompok (Ancok, 2004). Super ordinate goals yang kita raih saat ini adalah bagaimana menciptakan Indonesia yang aman, damai dan sejahtera.
Lebih jauh lagi permasalahan konflik antar kelompok seharusnya mendapatkan perhatian yang lebih serius dari semua pihak, karena penyelesaian persoalan ini harus lebih komprehensif. Beberapa solusi tersebut antara lain :

1. Lebih cepat dan tanggap dalam memperhatikan berbagai ketidakpuasan yang terjadi di masyarakat.
Sebagaimana diketahui ketidakpuasan (subjective dissatisfaction) menjadi faktor utama munculnya gerakan sosial (Matulessy, 1997). Selama masih banyak persoalan tentang ketidakadilan, pengangguran dan tekanan ekonomi dikaitkan atau dijadikan dasar munculnya konflik antar kelompok.
2. Perlu tindakan hukum yang lebih tegas dan transparan pada pemicu kerusuhan.
Selama ini ada kesan pelaku kerusuhan tidak pernah mendapatkan law enforcement yang sepadan, karena adanya kendala bukti dan saksi dalam kegiatan massa sulit didapatkan serta dukungan dari tokoh dan anggota kelompoknya membuat aparat sulit untuk memberikan punishment kepada mereka.
3. Meningkatkan komunikasi di antara kelompok untuk mengurangi prasangka serta mempererat kerukunan.
Komunikasi ini dalam bentuk dialog interaktif secara kontinu dengan tujuan untuk membangun kesadaran sebagai bagian dari masyarakat plural; kegiatan bersama untuk membangun rasa percaya di antara kelompok, serta refleksi & renungan kebersamaan untuk mensikapi perbedaan visi kehidupan.
4. Kesadaran dari para pemuka kelompok untuk tidak menjadikan konflik sebagai alat politik
Hal ini memang tidak mudah, karena politik berarti kekuasaan, dan fanatisme kelompok merupakan kendaraan politik yang paling ampuh untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal sebagian besar masyarakat tergolong pada masyarakat level bawah, yang mengedepankan emosi pada para pemimpinnya, ditambah dengan kekurangmampuan mengulas konflik dengan lebih bijaksana dalam tataran wacana, sehingga mudah sekali digiring pada aksi brutal untuk mempertahankan kelompoknya (pemimpin). Oleh karena itu pemimpin kelompok diharapkan mengurangi perannya dalam politik atau tidak memunculkan pendapat yang sudah dirasuki oleh kepentingan politik. Selain itu menumbuhkan suasana yang sejuk serta tidak menguatkan klaim kebenaran yang mengarah pada fanatisme yang keliru.

Dari berbagai model solusi di atas, sebenarnya penyelesaian yang terfokus pada peningkatan kesadaran kelompok merupakan cara yang paling efektif dalam menurunkan konflik antar kelompok. Pembinaan pada anggota kelompok diarahkan pada peningkatan kualitas akan nilai-nilai kebenaran dan menumbuhkan sikap toleransi adalah sesuatu yang paling efektif daripada mengkonsentrasikan pada penambahan jumlah pengikutnya. Namun demikian pada kehidupan social yang semakin penuh dengan kompetisi, maka penghayatan akan toleransi masih merupakan wacana yang sulit untuk diimplementasikan pada tingkatan realitas.

Sekali lagi orang masih melakukan proses heuristics atau mental short-cut dalam mempersepsikan segala hal yang terkait dengan orang lain. Ada prototype di dalam struktur kognitif seseorang yang dibangun dari sebuah proses interaksi dan internalisasi dengan lingkungan sosialnya, dalam arti kultur, agama, etnis atau lingkungan keluarga. Prototype tsb tidak selalu benar, banyak distorsi kognitif yang menyulitkan munculnya toleransi pada orang lain. Selain itu egoisme pribadi yang menetapkan diri pribadi atau kelompoknya menjadi tolok ukur dalam menilai orang lain pun akan menyulitkan seseorang untuk bertoleransi dengan orang atau kelompok lain.

Di dalam kehidupan bermasyarakat ada kecenderungan orang masih berfikir “senang melihat orang lain sakit, atau sakit hati bila melihat orang lain senang”. Padahal toleransi harus didasari oleh kebutuhan kita untuk share/ saling berbagi persoalan dengan yang lain tanpa saling menghalangi; mampu berempati atau mampu merasakan apa yang sedang terjadi pada orang lain, kemampuan empati seperti ini memang tidak mudah untuk dilakukan selama tidak ada keterbukaan hati dan pikiran kita akan keberadaan orang lain; simpati pada apa yang dilakukan orang lain, selalu melihat bahwa apa yang dilakukan orang lainpun patut kita hargai; menghormati pendapat, pandangan, keyakinan, customs, perilaku, agama, suku dan segala atribut orang atau kelompok lain, kondisi seperti ini bisa tercapai apabila kita terbiasa untuk berkomunikasi dengan berbagai typical orang yang berbeda, fanatisme menggumpal karena jarang ada interaksi dan komunikasi dengan orang atau kelompok lain; tidak selalu menilai orang lain berdasarkan subjektifitas dirinya, bahaya menggunakan subjetivitas adalah semakin menyulitkan kita untuk menerima kehadiran dan perubahan yang terjadi pada orang lain, karena setiap orang mau tidak mau akan selalu berubah, sehingga pandangan kitapun harus berubah, selain itu objektivitas muncul apabila kita mampu berinteraksi; mengedepankan consensus daripada konflik dengan individu lain, selama ini penyelesaian dengan berkonflik dianggap lebih sesuai dalam mencapai tujuan diri dan kelompok, padahal sekali konflik muncul akan semakin sulit kita mengendalikan untuk tidak berkonflik atau akan muncul jenis konlik lain yang semakin parah; menumbuhkan pemahaman yang lebih mendalam tentang segala persoalan yang terjadi pada orang lain, memahami orang lain tidaklah mudah, karena harus didasari oleh kebersihan nurani untuk melihat segala persoalan dengan lebih hati-hati dan jernih; tidak ada keinginan untuk mengalahkan orang lain, dalam arti tidak selalu melihat kelompok lain sebagai musuh namun lebih menekankan pada kemenangan semua pihak, karena semua pihak adalah mitra dalam kehidupan sehari-hari; serta menetapkan bahwa kerjasama adalah modal social yang paling utama dalam membangun interaksi bersama. Tanpa adanya toleransi antar kelompok, maka jangan harap segala capaian atau keinginan akan perubahan pada masa depan negara ini akan tercapai. MERDEKA !!!!

Sumber kajian :

1. Matulessy, Andik. 2003. Gerakan Mahasiswa. Penerbit Wineka Media. Malang.
2. Matulessy, Andik. 2003. Psikologi Pencerahan. Penerbit Wineka Media. Malang.
3. Matulessy, Andik. 2005. Psikologi Politik. Penerbit Srikandi. Surabaya.
4. Matulessy, Andik. 2005. Mahasiswa dan Gerakan Sosial. Penerbit Srikandi. Surabaya

Read More..

Meraih Masa Depan di Perguruan Tinggi (Suatu Kajian Psikologis)



Andik Matulessy


Diberikan dalam Diskusi Siswa-Siswi SMUTAG Surabaya,7 April 2006


Pendahuluan

Alkisah, John F. Kennedy setelah dilantik menjadi Presiden termuda di USA ditanya oleh wartawan tentang hal yang paling berkesan dalam kehidupannya. Jawaban yang diberikan sangat mencengangkan bagi semua orang, dia menyatakan saat menjadi mahasiswalah yang merupakan saat-saat menyenangkan bagi dirinya. Orang banyak berfikir bahwa saat dilantik menjadi Presiden termudalah saat yang paling menyenangkan baginya. Hal ini menjadi tanda tanya yang besar kenapa begitu menyenangkan menjadi seorang mahasiswa. Selain sebutan “maha” yang dilabelkan kepada mereka, kebebasan dan ketidakterikatan pada “penyeragaman” membuat mereka lebih mampu mengekspresikan diri.

Pernyataan di atas memang tidak sepenuhnya benar, karena Pendidikan Tinggi tidak hanya memberikan ruang gerak kebebasan berekspresi saja, namun demikian ada tuntutan untuk berfikir ilmiah, karena menjadi mahasiswa di Perguruan Tinggi berarti masuk pada komunitas ilmiah yang dituntut untuk memberikan pandangan atau mengkritisi sesuatu dengan dasar atau pijakan ilmiah, tidak hanya berdasarkan emosionalitas.

Oleh karena itu belajar di Perguruan Tinggi berarti mengajak kita untuk lebih bijak dalam menganalisis berbagai fenomena di sekitar kita, selain itu membiasakan diri untuk selalu terbuka pada verifikasi atau kritik. Sebagai mahasiswa seharusnya tidak lagi bersikap seperti robot, yang senantiasa menunggu “perintah” untuk mengejawantahkan materi kuliah yang diberikan oleh para dosennya. Kegiatan perkuliahan tidak lagi kaku, komunikasi searah, tanpa diskusi panjang, tanpa ada adu argumentasi di antara mahasiswa itu sendiri atau mahasiswa dengan dosen. Setiap mahasiswa harus aktif mengkonfirmasi atau mencari tahu lebih banyak tentang materi perkuliahan, tidak selalu patuh pada informasi yang diberikan atau terbelenggu kekritisannya oleh sikap otoritasn dosen. Selain itu daya kritis mahasiswa tidak hanya terbatas wacana sederhana tapi harus didasari oleh pijakan ilmiah yang didapatkan dari pemahaman berbagai sumber bacaan atau hasil penelitian terkini yang banyak dituliskan pada berbagai jurnal ilmiah. Hal tersebut karena salah satu cara mendapatkan kompetensi sebagai lulusan perguruan tinggi yang ideal adalah kegairahan kita untuk menelusuri berbagai tulisan atau deskripsi ilmiah sebagai bentuk dari keanggotaan seseorang pada lingkup komunitas ilmiah.

Bagaimanapun juga mahasiswa merupakan menjadi tulang punggung negara dan melanjutkan estafet kepemimpinan di masa-masa mendatang. Artinya seperti apa nantinya sebuah Negara tidak bisa lepas dari kreativitas pemikiran para mahasiswa. Kelompok mahasiswa dalam kehidupan sosial mendapatkan stratifikasi tempat dan peran yang teramat penting sebagai kelompok pemikir elit. Kepada merekalah sebenarnya masa depan suatu bangsa amat ditentukan apakah bergulir menuju kebobrokan ataukah menuju kecerahan. Hal tersebut karena mahasiswa memiliki berbagai fungsi strategis sebagai agent of change, transfer of knowledge, transfer of ideology, indicator of national or political stability, agent of globalization, dan human transformer. Sebuah survey yang dilakukan di Yogyakarta terhadap 200 mahasiswa sekitar bulan Mei 2004 yang menemukan bahwa sekitar 70 % mahasiswa masih yakin bahwa mereka adalah kekuatan akan perubahan (agent of change). Oleh karena itu peran yang penting inilah yang seharusnya menjadi tuntutan pada mahasiswa untuk mengoptimalkan kompetensi pada dirinya.

Hal ini semakin penting bila dikaitkan dengan pengajaran di lembaga pendidikan tinggi yang tentunya harus mengedepankan output dan outcome yang memiliki kompetensi yang diharapkan sesuai dengan disiplin ilmunya. Artinya perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan produk lulusan yang kompeten, namun mampu diserap oleh masyarakat pengguna lulusan, baik dalam tataran organisasi birokrasi pemerintahan, sipil atau militer, perusahaan swasta ataupun negeri, maupun organisasi kemasyarakatan yang lain.

Apalagi terjangan globalisasi membuat situasi menjadi semakin kompetitif dan global, sehingga pendidikan tinggi dianggap menjadi sarang untuk meningkatkan syarat kompetensi bagi seseorang. Ditambah lagi keberadaan seseorang yang tidak lagi terbatas pada satu negara saja, tetapi melintas ke beberapa negara lain, maka membutuhkan kompetensi yang semakin detail dan kompleks.

Oleh karena kondisi seperti di atas perlu mendapatkan respon dari para siswa untuk segera membuat pilihan pada Perguruan Tinggi. Memang pilihan untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi bukanlah satu-satunya jawaban bagi siswa untuk mengembangkan dirinya, ada berbagai pilihan lain misalnya langsung mencari kerja. Namun demikian perlu disadari bahwa peningkatan penggangguran pada pendidikan menengah atas lebih banyak prosentasenya daripada mereka yang lulus dari perguruan tinggi. Berdasarkan review dari BPS tahun 2005 ada sekitar 3.911.502 lulusan SLTA yang menganggur dibandingkan lulusan perguruan tinggi yang hanya 385.418. Hal ini menunjukan bahwa pangsa pasar masih menganggap bahwa Perguruan Tinggi menjadi prasyarat utama untuk menerima calon karyawan mereka.

Namun demikian memilih perguruan tinggi harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian, karena ada berbagai criteria sebuah Perguruan Tinggi berkualitas atau tidak. Banyak siswa mengadu nasib untuk meraih tempat di PTN, padahal patut disadari bahwa kapasitas PTN hanya bisa menampung 5% dari ribuan pelamar tes masuk PTN. Selain itu dengan adanya peraturan pemerintah tentang akreditasi, maka istilah PTN dan PTS menjadi sangat tidak signifikan untuk diperbandingkan. Hal tsb karena hasil akreditasi yang menentukan kualitas dan kompetensi lulusan Perguruan Tinggi bukan nama besar atau status swasta / negeri. Selain itu perlu juga untuk memperhatikan sustainability dari sebuah Perguruan Tinggi, yang dapat dilihat dari sarana / prasarana yang dimiliki, jenjang pendidikan dan kemampuan akademik staf pengajar dan disiplin dalam proses belajar mengajar. Jangan tergiur hanya dengan harga murah dan kelulusan kilat, karena nantinya tidak akan memberikan dampak positif yang signifikan pada peningkatan kompetensi seseorang.

Gambaran Mahasiswa Perguruan Tinggi

Mahasiswa sebuah Perguruan Tinggi sangatlah bervariasi, baik dari segi motivasi dan latar belakang social ekonomi. Maman S. Mahayana (dalam Mahasiswa Menggugat, 1998) membagi menjadi 6 kategori mahasiswa :

1. Mahasiswa underdog, umumnya datang dari pedesaan, merasa tidak ada yang dibanggakan, berusaha menjadi mahasiswa yang baik, motivasinya tinggi untuk kuliah
2. Mahasiswa salon, datang dari kota dan keluarga berada, kuliah sekedar agar tidak menganggur, bersiap melanjutkan usaha orang tua, kampus sebagai tempat pamer kendaraan, tujuannya status mahasiswa bukan ilmu
3. Anak mamih, dari keluarga menengah atas, sungguh-sungguh kuliah tapi tidak peduli kegiatan non-akademis, tujuannya segera menyelesaikan dengan baik.
4. Mahasiswa jalan pintas, motivasinya hanya memperoleh gelar, sehingga menggunakan berbagai cara untuk mendapat nilai baik.
5. Mahasiswa pekerja, dari keluarga pas-pasan atau karyawan yang ingin merubah nasib, biasanya sungguh-sungguh mengikuti kuliah, sering juga mengikuti kegiatan kemahasiswaan.
6. Mahasiswa unggulan, berasal dari keluarga terpelajar, secara ekonomi dan intelektual bagus, sering memanfaatkan masa kuliah untuk menempa diri dengan berorganisasi atau kegiatan ilmiah lainnya.

Berbagai jenis mahasiswa inilah yang memunculkan konsekuensi sulitnya menemukan bahwa semua orang nantinya kompeten untuk mengikuti perkuliahan dan organisasi intrakurikuler di kampus. Oleh karena itu output dari Perguruan Tinggipun menjadi sangat bervariasi, ada yang sangat kompeten di bidangnya namun ada pula yang sangat tidak kompeten. Hal tersebut karena pencerapan materi, pembiasaan diri untuk berfikir kritis-rasional, memunculkan kreasi, melapangkan ranah kognitif, meningkatkan emotional quotient, adversity quotient, spiritual quotient, ternyata tidak dimanfaatkan dengan baik untuk didapatkan pada saat seseorang berstatus sebagai mahasiswa.

Cara Meningkatkan Diri Sebagai Mahasiswa

Sebagaimana diketahui semua orang di dunia ini mempunyai kekuatan yang bersumber dari dirinya, namun seringkali masih dalam bentuk potensi. Banyak ahli Psikologi berpendapat bahwa setiap individu mampu mengembangkan dirinya dan mengubah menjadi lebih baik. Namun demikian, ternyata banyak juga yang merasa tidak mempunyai kelebihan, tak berguna dan sulit menapak pada kebutuhan puncak menurut Maslow yakni mencapai aktualisasi diri. Oleh karena itu banyak yang terhambat pengembangan dirinya dan membutuhkan tekanan internal dan eksternal tertentu agar berkembang dengan lebih baik. Robbins (dalam Santi, 2005) menyatakan bahwa perubahan seseorang (termasuk pengembangan diri) harus memiliki 3 keyakinan dasar dalam dirinya, yaitu : 1) ia mau berubah, 2) ia harus berubah, dan 3) ia dapat berubah. Berdasarkan pandangan tersebut dapat disimpulkan bahwa pengembangan diri individu memerlukan kesadaran dan motivasi untuk berubah, serta pengetahuan tentang cara-cara pengembangan diri.

Sejak dulu kala banyak orang bijak yang menyarankan untuk mengenali diri. Socrates terkenal dengan kata-katanya “cogito orgo sum” kenalilah dirimu, karena dengan cara mengenali diri maka diharapkan dapat menjalani kehidupan secara lebih efektif. Sun Tzu (400 SM) menjelaskan 3 dalil tentang pentingnya mengenal diri, yakni : a) jika kamu mengenal dirimu dan mengenal musuhmu, maka kamu sudah berada di ambang kemenangan, b) jika kamu mengenal dirimu, namun tidak mengenal musuhmu, maka peluang menang adalah sama besar, c) jika kamu tidak mengenal dirimu dan tidak mengenal musuhmu, maka kamu pasti akan kalah dalam setiap pertempuran (Koentjoro, 2005).

Pengenalan diri sangatlah penting, karena dengan mengenal diri maka akan memperoleh 5 manfaat penting kehidupan, yaitu : a) mengetahui kebutuhan hidup yang sesungguhnya, b) mengetahui kekurangan dan kelebihan diri, c) memanfaatkan kekurangan dan kelebihan untuk mencapai cita-cita, d) mampu mengevaluasi keberhasilan dan kegagalan yang dilakukan pada masa lalu, dan kemudian digunakan sebagai modal dasar menempuh kehidupan yang lebih baik di masa mendatang, e) untuk merencanakan masa depan yang lebih terarah dengan kebenaran yang tinggi.

Bagaimana cara seseorang mengenal lebih baik dirinya ? Sebenarnya sudah sering seseorang melakukan pengenalan diri, namun pengenalan yang dilakukan tidak sistematis dan hanya menjawab problem hidup saat itu. Ada 3 cara untuk mengenal diri, yaitu : a) introspeksi yaitu melihat diri sendiri atau bercermin tentang diri sendiri. Kelemahan utamanya adalah diri yang didapat adalah diri subjektif menurut pandangan sendiri, b) meminta umpan balik orang lain, artinya meminta pendapat orang lain tentang diri sendiri. Kelemahannya adalah pendapat tersebut juga subjektif menurut si pemberi masukan, c) membaca dan memahami buku-buku orang bijak. Kelemahannya barangkali situasi dan kondisi kurang sesuai dengan diri sendiri.

Dengan berbagai cara tsb di atas diharapkan kita bisa merengkuh karakteristik kompetensi yang tidak mudah untuk dipelajari seperti halnya pengetahuan atau materi informasi pada ranah kognitif.

Tantangan Mahasiswa di Era Global

Di dalam era globalisasi yang menuntut kemampuan untuk berinteraksi dengan berbagai pihak dengan latar belakang yang berbeda, maka diperlukan kompetensi yang kompleks pula. Schneider dan Barsoux (2003) menetapkan beberapa kriteria kompetensi dari International Manager, yang diharapkan bisa untuk lebih meningkatkan diri bagi mahasiswa nantinya, antara lain :

1. Interpersonal skills, kemampuan membangun hubungan baik, menjalin pertemenan, building trust, serta mampu melakukan transfer knowledge pada kultur yang berebeda
2. Linguistic ability, kemampuan ini penting untuk meningkatkan kontak social yang lebih langgeng
3. Motivation to live abroad (cultural curiousity), menunjukkan kemampuan untuk beradaptasi dengan nilai-nilai kultur yang sama sekali berbeda
4. Tolerance for uncertainty & ambiguity, dalam interaksi dengan orang-orang yang berbeda budaya, maka kemampuan untuk bertoleransi dan melakukan coping pada situasi yang tidak menentu sangat lah penting
5. Flexibility, tidaklah mungkin mengharapkan kelangsungan kontak antar kultur apabila tidak ada kemampuan untuk selalu membuka diri terhadap perubahan
6. Patience & respect, berlaku sabar dan menghargai orang merupakan golden rule dalam bisnis internasional
7. Cultural emphaty, focused listening dan pendekatan yang tidak mudah untuk melakukan judgment pada orang lain menolong seorang manager untuk memahami cara berfikir orang lain
8. Strong sense of self (ego strength), kemampuan ini menunjukkan healthty narcism, yang nampak dari kemampuan untuk berinteraksi dengan nilai-nilai budaya lain tanpa ketakutan kehilangan identitas dirinya. Termasuk pada kompetensi ini adalah kemampuan untuk selalu terbuka terhadap kritik dan umpan balik dari orang lain
9. Sense of humour, humor menjadi sesuatu yang penting sebagai mekanisme coping dan relationship building, selain itu humor bisa menjadi cara untuk memecahkan kekakuan, untuk lebih menetapkan hubungan dengan orang dan meminimalisir isu yang terjadi.

Kesemua hal itu akan menjadi tantangan bagi mahasiswa untuk selalu meningkatkan potensinya guna merengkuh peran dan posisi ideal yang diharapkan nanti saat mereka menjadi produk dari sebuah perguruan tinggi yang bermanfaat bagi masyarakat dan negara. Lebih jauh lagi hal inipun akan menjadi tantangan bagi seluruh civitas academica Perguruan Tinggi untuk memberikan lahan pada mahasiswa guna mencapai hierarki kompetensi ideal yang dibutuhkan nantinya dalam realitas yang penuh kompetisi dengan jutaan produk perguruan tinggi lainnya di seluruh dunia ini. Semoga segala hal yang diungkapkan dalam tulisan ini bisa memacu semua pihak, utamanya mahasiswa untuk mengisi hari-harinya dengan sikap dan perilaku ilmiah yang lebih baik.

Kajian Pustaka

Armstrong, Michael. 2000. The Art of HRD : Human Resource Management. Crest Publishing House. New Delhi.

Armstrong, Michael. 2000. The Art of HRD : Managing People. Crest Publishing House. New Delhi.

Hughes,Richard L., Ginnett, Robert C., Curphy, Gordon J. 1999. Mc Graw-Hill Book Co. Singapore.

Nankervis,Alan R., Compton, Robert L., McCarthy,Terence E. 1996. Strategic Human Resource Management. An International Thompson Publishing Company. South Melbourne.

Philips,Jack J & Drewstone,Ron. 2002. How to Measure Training Results. McGraw-Hill. New York.

Schneider,Susan C. & Barsoux, Jean-Louis. 2003. Managing Across Cultures. Prentice Hall. England.

Smither, Robert D. 1994. The Psychology of Work and Human Performance. Harper Collins College Publishers. New York.

Spencer, Lyle M. 1993. Competence at Work : Models for Superior Performance. John Wiley & Sons,Inc. Canada.

Koentjoro. 2005. Meningkatkan Motivasi dan Pemahaman Diri. Makalah Pelatihan. Forest.

Read More..